berfikir perspektif al-qur’an

REKONSTRUKSI BERFIKIR

Dalam uraian yang lalu, kita telah bernostalgia sejenak tentang maju mundurnya peradaban Islam akibat pengkhianatan umat Islam sendiri kepada Tuhan, terutama terhadap fungsi kekhalifahan sang manusia yang tercerabut dari akar yang seharusnya, yaitu hilangnya kesadaran pada diri sang khalifah untuk bertindak dengan dan atas nama ALLAH yang telah mengutusnya dengan haq. Pengkhianatan ini ternyata telah menimbulkan dampak balik yang sungguh merugikan dan merepot sang khalifah itu sendiri.

Untuk bagian selanjutnya, akan saya uraikan secara sederhana alternatif perbaikan yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan bagi kita semua, yaitu keberanian dari umat Islam sendiri untuk melakukan rekonstruksi paradigma berfikir terhadap pokok-pokok ajaran Islam yang telah diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Perlunya rekonstruksi paradigma berfikir itu adalah karena dalam perjalanannya, PEMAHAMAN umat Islam terhadap pokok-pokok ajaran Islam itu ternyata telah melenceng jauh dari arah yang diamanatkan oleh ajaran Islam itu sendiri. Pemahaman agama sepertinya tertinggal jauh dengan permintaan dan kebutuhan ZAMAN. Karena memang agama sepertinya dengan sengaja ingin dihentikan hanya sebatas pemahaman zaman ulama salaf yang sungguh sangat sederhana kalau tidak mau dikatakan primitif.

Akibatnya maka yang muncul di tengah-tengah umat beragama adalah PARADOKS yang sangat akut. Saat ini agama nyaris tinggal seperti sebuah buku bacaan berupa NOVEL saja. Kita hanya dibawa menerawang pada sebuah zaman yang katanya sangat indah semasa Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabiin, Tabit Tabiin, dan ulama-lama Salaf tempo dulu. Bahwa pernah hidup dengan harmonis sekelompok orang dimana mereka senang kepada Allah dan Allah juga senang kepada mereka. Bahwa… beliau-beliau yang mulia itu hidup berdampingan panji-panji syariat Islam, bahwa…, bahwa…, … indah sekali. Lalu kita dibuat sibuk dengan NOVEL itu, membicarakannya kata demi kata, bahkan menghafal kata-katanya entah untuk apa. Akan tetapi begitu kita memalingkan muka kita dari NOVEL itu dan melihat kepada zaman kita sekarang, maka bayangan di dalam NOVEL itu seakan-akan hilang lenyap, tak berbekas.

Padahal AGAMA itu memang ADA BARANGNYA, real sekali. Agama itu adalah ibarat kita mendengar berita di TV. Saat pembawa berita berbicara tentang sebuah keindahan alam, misalnya pantai Anyer, maka beberapa detik kemudian kita diperlihatkan tentang detail dari pantai Anyer itu secara visual. Dan secara otomatis pusat perhatian kita lalu beralih dari WAJAH si pembaca berita ataupun dari SPESIFIKASI pesawat TV-nya kepada REALITAS berita yang dibacakan. Dan bagi yang tertarik tentu akan datang ke pantai Anyer itu untuk membuktikan keindahan pantai Anyer itu. Apalagi bagi yang sudah pernah ke pantai Anyer itu, dia hanya akan senyum-senyum saja…. “Terbukti kan… ?”, kata sebuah iklan. Karena memang agama itu fungsinya adalah sebagai sebuah JENDELA untuk mengamati bahkan menjadi sebuah PINTU untuk memasuki keindahan perilaku dan budaya manusia (bukan kera).

Sayangnya adalah bahwa arah yang melenceng itu diprakarsai oleh orang-orang yang mengerti atau pakar (hafal) tentang agama Islam, dan pada level yang sangat mengagumkan juga telah menjalankan agama itu dengan sungguh bersemangat, misalnya ustadz, ulama, dan para kyai. Akan tetapi dengan pengertian yang berkembang dan dipakai saat ini, tanpa disadari, umat Islam itu telah membawa dirinya sendiri kearah kejumudan pemikiran.

Kejumudan pemikiran ini berimbas pula ke dalam sistem pendidikan yang ada di masyarakat kita. Masih sering saja muncul anggapan, bahwa sistem pendidikan yang berkembang saat ini bukanlah dikatakan sistem pendidikan yang islami hanya karena di sekolah tersebut tidak diajarkan (atau sedikit sekali) diajarkan tentang pendidikan agama atau syariat Islam. Sehingga lalu muncullah pemisahan pendidikan menjadi sekolah agama di satu sisi dan sekolah umum di sisi lain. Universitas agama Islam dan sekolah-sekolah agama lainnya seperti pesantren dan madrasah-madrasah sepertinya berada di jalur terpisah dengan lebih memfokuskan perhatian kepada pendidikan agama.

Kemudian ada memang muncul sekolah yang bercirikan agama yang sangat kental, yang biasanya disebut sebagai “sekolah plus” atau UNGGULAN, yang juga mengajarkan pendidikan “umum” seperti di sekolah-sekolah negeri umumnya. Akan tetapi sayang bedanya masih terbatas hanya pada tempelan simbol-simbol agama saja. Misalnya siswanya hanya sekedar lebih banyak hafal Al Qur’an dan Al Hadits, lebih terlihat rajin shalat, yang lalu dikatakan lebih agamis dibandingkan dengan siswa disekolah umum.

Kejumudan pemikiran ini jugalah nantinya yang membuat para ahli seperti dokter, insinyur, ahli hukum, ahli akuntansi, ahli gizi, ahli baja, ahli manajemen, dan ahli-ahli lainnya, yang dikategorikan orang saat ini sebagai AHLI PENGETAHUAN UMUM merasa MINDER hanya karena mereka tidak banyak hafal ayat-ayat Al Qur’an, Al Hadits dan terminologi keagamaan lainnya. Mereka tidak punya keberanian untuk menyadari bahwa merekalah sebenarnya orang-orang yang sedang menjalankan Al Qur’an dan Al Hadits tersebut. Walaupun mereka tidak hafal ayat Al Qur’an dan Al Hadits itu, tetapi mereka sebenarnya adalah pengamal sejati dari ayat-ayat Al Qur’an itu. Mereka adalah realitas orang-orang yang sedang mengamati ayat-ayat kauniah seperti yang diperintahkan oleh Al Qur’an. Sehingga mereka bisa menemukan bahwa Al Qur’an itu “ada barangnya”, bahwa Al Qur’an itu bukanlah sekedar hanya teks dalam bahasa Arab (kauliyah) yang dihafal-hafal, dilagukan, dibicarakan saja. Bahwa Al Qur’an itu ternyata adalah laksana sebuah TEROPONG untuk melihat sebuah realitas (kauniah) TUHAN. Barang siapa yang mau menggunakan teropong itu akan mendapatkan manfaat yang sungguh mencengangkan.

Oleh sebab itu perlu adanya Rekonstruksi Berfikir bagi umat Islam yang meliputi perubahan pandangan atau paradigma terhadap Al Qur’an, As Sunnah, dan akal …, sehingga diharapkan pada akhirnya bisa terbentuk karakater manusia baru yang dalam Al Qur’an disebut sebagai karakter orang Islam yang utuh, yaitu karakter Orang Berakal. Membaca alternatif apa-apa yang harus dirubah ini, tentu saja akan ada saja pihak-pihak yang kebakaran jenggot dibuatnya. Bahkan belum-belum sudah muncul pula cap pada saya sebagai orang yang sesat, orang yang sok tahu, dan sebagainya. Ya…, tidak apa-apa. Mari kita urai satu persatu….!!

Yang saya maksud dengan rekonstruksi berfikir itu adalah sederhana saja, yaitu dengan merubah cara pandang terhadap Al Qur’an dan As Sunnah yang sudah terkontaminasi sedemikian rupa menjadi cara pandang yang diingini oleh Al Qur’an dan As Sunnah itu sendiri. Jadi memandang Al Qur’an, As Sunnah, dan akal dengan Al Qur’an dan Sunnah itu sendiri. Untuk melakukan rekonstruksi itu, maka perlu dilakukan peruntuhan konstruksi cara berfikir lama yang ada saat ini, lalu dilakukan konstruksi ulang sehingga menghasilkan bangunan berfikir yang baru. Akan tetapi meruntuhkan paradigma berfikir lama itu alangkah sulitnya. Sungguh sulit, karena dalam prosesnya perlu menghapus sebagian atau bahkan mungkin seluruh memori paradigma lama yang telah karatan tersimpan di dalam otak kita selama ini.

Mari kita coba perlahan-lahan saja…

PANDANGAN AL QUR AN TERHADAP TEORI EPISTEMOLOGI
( Belajar dari Filsafat Ibrahim dalam mencari kebenaran )

Oleh : Zainul Musthofa RS *

A. Pengantar

Ada tiga unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pembahasan filsafat Islam yaitu eksistensi Tuhan, Alam dan Manusia. Dari tiga unsur ini ahirnya lahir pengetahuan. Ketika manusia melihat fenomena alam kemudian menemukan pengetahuan di dalamnya maka orang tersebut menggunkan teori Empiris. Tetapi ketika dia memakai akal pikiran setelah tahu informasi dibalik apa yang dilihat maka orang tersebut menggunakan teori Rasional. Ketika menusia memadukan antara konsep dan realita, antara pernyataan dengan kenyataan maka dia menggunakan teori Kritis.
Islam memandang tidak cukup kalau filsafat pengetahuan hanya didasarkan pada tiga hal diatas. Ada unsur penting yang harus ada dalam filsafat Islam dan itu mempunyai implikasi yang sangat besar bagi kehidupan manusia yaitu proses konsultasi langsung kepada Tuhan. Ini yang disebut dengan pengetahuan Intuisi.
Belajar dari kasus Ibrahim yang memulai filsafatnya dengan proses Empiris, Rasional dan Kritis. Pada saat ketiga hal ini tidak mampu menjawab keraguan dari konsep pengetahuan dia, maka yang dilakukan Ibrahim adalah meminta penjelasan langsung kepada Dzat yang ada dibalik fenomena alam yaitu Allah SWT.

Teori Epistemologi
Dalam Filsafat barat kita mengenal adanya beberapa teori yang menjelaskan tentang proses pencapaian ilmu pengetahuan (kebenaran) yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang tertera dalam Al Qur an. Cuma ada beberapa hal yang perlu kita kompromikan agar pemahaman kita tidak mengalami kesalahan. Dalam Al Qur an (Islam) juga ada satu unsur yang sulit untuk ditinggalkan dan ini sangat menentukan bagi kebenaran suatu ilmu yaitu Intuisi (ilham). Teori-teori tersebut adalah : Empirisme, Rasionalisme, Kritisme.

Teori Empirisme
Aliran yang mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yang ditangkap panca indera.[1] Jadi ketika kita mengindera sesuatu maka kita dapat memiliki suatu konsepsi tentangnya yakni menangkap form dari sesuatu itu dalam akal budi kita. Tokoh filsafat ini adalah John Locke. Ia muncul ketika konsep-konsep Descrates tentang ide-ide fitri sedang berkembang. Ia berusaha mengembalikan segala konsepsi dan ide kepada indera. Teori ini mampu menggugurkan teori ide fitri yang dikembangkan filosof sebelumnya. Belakangan, teori ini tersebar luas dikalangan filosof-filosof Eropa.

Teori Rasionalisme
Aliran yang mengemukakan bahwa sumber pengetahuan menusia adalah pikiran, rasio, jiwa manusia.[2] Teori ini dikemukakan oleh para filosof Eropa diantaranya: Descartes (1596 – 1650) [3] dan Immanuel Kant [4] (1724 – 1804), dan lain-lain.
Teori tersebut terangkum dalam kepercayaan adanya dua sumber bagi konsepsi. Pertama, Penginderaan. Kita mengkonsepsi panas, suara, cahaya, karena kenginderaan kita terhadap semua itu. Kedua, adalah Fitrah dalam arti bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan konsepsi-konsepsi yang tidak muncul dari indera. Tetapi ia sudah ada dalam lubuk fitrah.

Teori Kritisisme
Aliran yang berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari dunia luar, juga dari dalam jiwa atau pikiran manusia.Teori ini mencoba untuk memadukan antara kebenaran yang diterima oleh indera manusia (kebenaran empiris) kemudian dikaji munurut pendekatan akal (rasio).

Pandangan Al Qur an terhadap Teori Epistimologi
(Belajar dari kasus Ibrahim)

Berangkat dari persepsi yang sangat sederhana “Pentingnya Tuhan dalam memperolih pengetahuan” maka saya mencoba memposisikan epistemologi dalam perspektif Al Qur an dengan mengambil kasus yang menimpa Ibrahim ketika mencari pengetahuan. Ini dipandang penting mengingat dalam filsafat barat, unsur ini tidak terlalu diperhatikan.
Balajar dari kasus pendidikan filsafat nabi Ibrahim ketika mengalami kebimbangan terhadap sumber pengetahuan yang dihasilkan dari proses penginderaan terhadap fenomena alam yang pada ahirnya tidak menemukan kepuasan karena apa yang diindera dengan apa yang ada dalam konsep (rasio) tidak terjadi kesesuaian (bertentangan). Apa yang dialami Ibrohim, menyebabkan ia menyerahkan keputusannya kepada Dzat yang ada dibalik fenomena alam dan yang memberikan pengetahuan. Ini bisa terbaca dari runtutan informasi al-Qur’an :

Ketika malam menjadi gelap, ia melihat bintang lalu ia berkata “inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam ia berkata “saya tidak suka kepada yang tenggelam”.[5]

Ayat ini menjelaskan kegundahan Ibrahim melihat kaumnya yang tetap tidak mau mengikuti ajakannya untuk menuju kebenaran yang hakiki dan tetap pada kebiasaan yang telah dilakukan nenek moyang mereka yaitu paganis. Pendidikan filsafat pertama yang diajarkan Ibrahim adalah pencarian pengetahuan dengan cara empiris, melihat fenomena Alam yang ada di sekelilingnya.
Yang menarik untuk di kaji, kenapa Tuhan memperlihatkan kepada Ibrahim dan kaumnya tanda-tanda kebesaran melalui bintang, bulan dan matahari, tidak jenis makhluk yang lain seperti sapi, unta, pohon dan sejenisnya. Ini disebabkan karena masyarakat setempat (Babylonia) di samping paganis adalah penyembah bintang, bulan dan matahari. Sehingga tepat sekali Allah kemudian memberi pelajaran dengan contoh-contoh di atas. Anjuran untuk melihat fenomena (empirics) ini juga didukung beberapa ayat Al Qur an di antaranya adalah : Surat Al Maidah 31. Ali Imran 137.
Ketika proses peng-indera-an pertama gagal kerena persepsi awal yaitu “Tuhan Bintang” dengan realitas “Tenggelamnya Bintang” tidak terjadi kesesuaian (Correspondence)[6] sehingga muncul pertanyaan “Masak sih Tuhan bisa hilang”. Ini menyebabkan proses menemukan pengetahuan tentang kebenaran Tuhan mengalami kegagalan. Maka Allah kemudian memberikan tanda yang lain yang lebih terang yaitu Bulan.

Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata “inikah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, maka ia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”.

Ternyata bulan yang dianggap sebagai Tuhan juga mengalami hal yang sama (tenggelam), Ibrahim yang asalnya sangat yakin bahwa itu Tuhan mengalami kebimbangan lagi, sehingga ia mengatakan: kalau sekiranya Tuhan tidak segera memberikan petunjuknya, pastilah aku menjadi orang-orang yang sesat. Ini merupakan kegagalan indera manusia untuk mengartikan suatu fenomena.
Dari sini tampak sekali usaha-usaha yang dilakukan oleh Ibrahim dalam mencari kebenaran tidak hanya menggunakan pendekatan Empiris saja, ada unsur lain yang digunakan Ibrahim sebelum mengambil kesimpulan yaitu Rasio. Ketika Indera manusia gagal menangkap fenomena, maka yang bekerja selanjutnya adalah akal.
Jadi pengetahuan inderawi bukan satu-satunya pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk memperoleh kebenaran, sebab pada bagian lain Islam juga menyebutkan perlunya untuk menggunakan rasio. Kita bisa melihat dalam beberapa ayat al Qur an yang menjelaskan hal ini di antaranya surat al-Nahl 10-11, Surat al-Maidah 97, Surat Saba’ 46.

Ayat selanjutnya adalah :

Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata: inilah Tuhanku, inilah yang lebih besar, maka tatkala matahari itu tenggelam, ia berkata: hai kaumku sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu sekutukan.[7]

Ketika Ibrahim diberi tanda yang ketiga (matahari), dan Ibrahim tetap tidak mendapatkan kepuasan. Maka di sinilah pentingnya sikap kritis sebelum mengambil keputusan akhir. Sikap kritis sangat diperlukan untuk mengetahui benar tidaknya suatu pengetahuan.
Ketika informasi empiris diterima kemudian dikelola oleh akal (rasio) untuk menentukan apakah informasi pengetahuan itu benar atau tidak, maka proses kritis sangat menentukan. Obyektifitas akal pikiran sangat diperlukan untuk menimbang kebenaran informasi antara fakta dan realita, antara pernyataan dan kenyataan. Ini dapat dimengerti agar validitas kebenaran tetap terjaga. Al Qur an juga menganggap penting tentang hal ini, dan kita bisa lihat dalam beberapa ayat Al Qur an seperti dalam surat az-Zumar 18 dan Surat Isra’ 36.

“Sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.[8]

Dari ayat ini jelas sekali, bahwa proses Kritis sangat menentukan sekali dalam mencari kebenaran. ketika seseorang mendengarkan suatu pendapat (berarti ini adalah proses penginderaan) dengan menggunakan telingannya, kemudian mau mengikuti apa yang paling baik, ini sudah merupakan suatu proses Kritis. Kata-kata “Ahsanah” dalam ayat tersebut merupakan cerminan dari sikap kritis. Ini merupakan proses yang paling ahir dari proses-proses sebelumnya yaitu penginderaan (Empiris) dan berfikir (Rasional).

Ayat yang terahir adalah :

Sesungguhnya aku menghapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama-agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan.[9]

Pendidikan filsafat terahir yang diterima dari nabi Ibrahim adalah pengembalian segala putusan ahir kepada Tuhan (ini adalah proses Intuisi). Segala pengetahuan yang yang dihasilkan dari peng-indera-an, rasional, kritis, semuanya harus dikunsultasikan kepada Dzat yang menciptakan pancaindera, pemberi akal pikiran. Sebab apa yang dipandang baik oleh manusia belum tentu sama dengan apa yang dikehendaki Allah, demikian juga sebaliknya. Ini yang menyebabkan kenapa setiap perbuatan manusia (baik melakukan pernikahan, menentukan jodoh dll ) selalu ditanyakan kepada Tuhan baik melalui sholat Tahajjut, Istikharah atau Ubudiyah lainnya. Al Qur an banyak menjelaskan tentang hal ini, diantaranya : Surat Hud 123. Surat Luqman 34. Surat Jin 26.
Proses yang terakhir (Intuisi) inilah yang membedakan dengan filsafat yang berkembang di barat. Filsafat Barat tidak mampu merumuskan visinya mengenai kebenaran dan realitas berdasarkan pengetahuan yang diwahyukan, tetapi mengandalkan pemikiran yang lahir dari tradisi-tradisi rasional dan sekuler Yunani dan Romawi, dan juga dari spekulasi-spekulasi metafisis para pemikir evolusionisme.[10] Sehingga berbeda dengan konsep Islam, dalam konsep Islam, ilmu di samping memiliki paradigma deduktif-induktif, juga mengakui paradigma transendental, pengakuan adanya kebenaran dari Tuhan.

___________________________
* Penulis adalah Direktur FKIS (Forum Kajian Islam Sosial) Pon Pes Sunan Drajat Banjaranyar Paciran Lamongan.
[1] Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya : Bina Ilmu, 1987), 97
[2] Ibid
[3] Rene Descartes, filosof Prancis. Descrates mengingatkan kita kepada Al-Ghozali yang dalam mencari pengetahuan tertentu, memulai dengan meragukan segala sesuatu, karena ragu adalah satu bentuk berfikir. Lalu ia mencapai pengetahuan bahwa Tuhan ada karena kepastian pengetahuannya tentang dirinya.
[4] Immanuel Kant adalah seorang filosof Jerman. Posisi Kant merupakan sintesis rasionalisme dan empirisme masa itu.
[5] Al Qur an, 6: 76
[6] Teori Correspendence mengatakan bahwa kebenaran itu merupakan kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan halnya atau faktanya. (Louis Kattsoff, Unsur-unsur filsafat, Terj S. Sumargono, Yogyakarta, tt. 246-267) Dengan demikian maka kebenaran adalah Truth, then, Would be defined as fidelity to obyektive reality: Kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas obyektif. (George Thomas White Patrick, Introduntion to philosophy, London, 1958), 373-374. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa teori correspondence tentang kebenaran memuat dua hal. Pertama adlah pernyataan dan yang kedua adalah kenyataan. Ketika Pernyataan dan Kenyataan terjadi kesesuaian maka itu yang dinamakan benar.
[7] Al Qur an 6: 78
[8] Al Qur an 39 : 17-18.
[9] Al Qur an 6: 79
[10] C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam (Jakarta : Yayasan Obor, 1989), 3. Pandangan Al Quran tentang IPTEK
Rabu, 18 Februari 2009 16:21 M. Mustahdi
Surel Cetak PDF
picture-006.jpgOleh : Muhammad Majdi
(Juara III, Lomba Karya Tulis Santri)

1.PENDAHULUAN
Pandangan Al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dikethui prinsip –prinsipnya dengan menganalisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

Bacalah dengan ( menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajar ( manusia ) dengan perantaraan Kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.

Iqra terambil dari akar kata yang berarti “ menghimpun “, dari menghimpun lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti,mengetahui cirri sesuatu, dan membaca baik tertulis maupun tidak.
Wahyu pertama tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’an mnghendaki agar umatnya membaca apa saja selama bacaan itu Bismirabbik , dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Iqra, bacalah, telitilah, dalamilah, kethuilah cirri –ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda –tanda zaman, sejarah diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis. Alhsil objek perintah Iqra, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca , tidak diperoleh kecuali mengulangi – ulangi bacaan, atau membaca hendaklah dilakukan sampai mencapai batas yang maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang – ulangi bacaan Bismi Rabbik ( Demi karena Allah ) menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walupun yang dibaca itu–itu aja. Itulah pesan yang terkandung Iqra’ Warabbikal Al – Akram. ( Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. ).

Selanjutnya dari wahyu pertama Al-Qur’an diperoleh isyrat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu Pengetahuan. Allah mengajar dengan pena atau bacaan ( apa yang telah diketahui manusia sebelumnya ) dan mengajar manusia tanpa pena ( apa yang belum di ketahui manusia )

Cara pertama adalah mengajar denagan atau atas dasar manusia, dan cara yang kedua mengajar tanpa alat dan tanpa usaha dari manusia. Walaupun berbeda namun keduanya bersumber dari satu sumber yaitu Allah SWT.

Setiap pengetahuan memiliki subyek dan obyek. Secara umum subyek dituntut peranannya guna memahami obyek. Namun pengalaman ilmiah menunjukkan bahwa obyek terkadang memperkenalkan diri kepada subyek tanpa usaha sang subyek. Sebagai contoh comet halley memasuki cakrawala hanya sejenak setiap 76 tahun. Dalam kasus ini walaupun para astronom menyiapkan diri dan alat – alatnya untuk mengamati dan mengenalnya, tetapi sesungguhnya yang paling berperan adalah kehadiran komet itu memperkenalkan diri.

Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya atau apa yang diduga sebagai “ kebetulan “ yang dialami oleh ilmuan yang tekun, kesemuanya tidak lain kecuali bentuk – bentuk pengajaran Allah yang dapat di analogikan dengan kasus komet diatas. Itulah pengajaran tanpa kalam yang di tegaskan wahyu pertama ini.
Baiklah kandungan wahyu pertama diatas , dirinci lebih jauh dengan merujuk ayat – ayat Al-Qur’an yang terkait.

11. ILMU PENGETAHUAN
Kata ilmu dalam berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan.

Ilmu dari segi bahasa mengandung arti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya semua mempunyai ciri kejelasan. Perhatikan misalnya kata ‘alam ( Bendera ), ‘ulmat ( Bibir sumbing ), A’laam ( Gunung – gunung ), ‘alamat (Alamat ) dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Kata ini berbeda dengan Arafa ( Mengetahui ), Aarif ( Yang Mengetahui ), dan Ma’rifah (Pengetahuan).

Allah SWT tidak dinamai A’rif, tetapi ‘aalim, dengan fi’ilnya Ya’lam ( Dia Mengetahui ) dan biasanya Al-Qur’’an menggunakan kata itu bagi Allah untuk hal – hal yang diketahui-Nya walaupun hal-hal ghoib, tersembumyi, atau dirahasiakan.

Perhatikan obyek – obyek pengetahuan berikut, yang dinisbahkan kepada Allah :Ya’lamu Maa Yusirrun ( Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan ), Ya’lamu Maa fii Al’arhaam ( Allah mengetahui apa yang ada didalam rahim ), Maa Tahmil Kullu Untsa ( apa yang di kandung oleh betina/perempuan ), Maa Fii Anfusikum ( apa dalam dirimu ), Maa Fissamawat Wa Maa fil Ardh ( apa yang ada di langit dan di bumi ), Khaainat Al-‘ayun Wa MaaTukhfiy As-Shuduur ( kedipan mata dan yang disembunyikan dalam dada )…demikian juga ilm yang disandarkan kepada manusia,semua mengandung makna kejelasan.

Dalam pandangan Al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk – makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah [2]:31. Manusia menrut Al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya atas izin Allah. Oleh karena itu bertebaran ayat – ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara dalam rangka tersebut. Sebagaimana pula berkali – kali Al-Qur’an menunjukan betapa tingginya kedudukan orang – orang yang berilmu pengetahuan.

Dalam pandangan Al-qur’an , seperti diisyaratkan oleh wahyu pertama diatas. Ilmu itu terdiri dari dua macam. Ilmu yang diperolehnya tanpa upaya manusia dan ini dinamai ilm ladunny, seperti yang diinformasikan antara lain oleh Q.S. Al-kahfi [18]:65.

Lalu mereka ( Musa dan muridnya ) bertemu dengan seorang hamba dari hamba – hamba kami, yang telah kami anugrahkan kepadanya rahmat dari sis kami dan telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami.

Dan ilmu yang diperoleh atas usaha manusia dan dinamai ilm kasby. Ayat – ayat yang menjelaskannya tentang ilm ladunny.

Pembagian ini disebabkan karena dalam pandangan Al-Qur’an terdapat hal-hal yang “ada” tetapi tidak diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak, sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an antara lain dalam firman-Nya.

Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa –apa yang tidak kamu lihat (Q.S. Alhaaqah. )

Dengan demikian, obyek ilmu meliputi batas – batas materi dan non materi bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh mnusia tidak.
Dia menciptakan apa – apa yang kamu tidak ketahui.( Q.S. Annahal[16]:8.)
Disini pula pengetahuan manusia amtlah terbatas, karena itu wajar sekali allah menegaskan bahwa.
Kamu di beri pengetahuan melainkan sedikit (Q.S. Al-Isra’[ 17]:85).

111. OBYEK ILMU PENGETEHUAN DAN CARA PEROLEHANNYA

Mengikuti pembagian ilmu yang disebut diatas, secara garis besar, obyek ilmu pengetahuan dapat dibagi dalam dua bagian pokok yaitu alam materi dan alam non materi.

Sains mutakhir mengarahkan pandangan kepada alam materi, sehingga mereka membatasi ilmu pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka tidak mengetahui adanya realita yang tidak dapat dibuktikan dialam materi. karena itu obyek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antara budaya.
Obyek ilmu menurut ilmuan muslim mencakup alam materi dan non materi. Sementara menurut kaum shufi melalui ayat – ayat Al-Qur’an memperkenalkan apa yang mereka sebut Alhadharaat Al-Ilhiyah Alkhams ( lima kehadiran Ilahi ) untuk menggambarkan hirarki keseluruhan wujud.
Kelima hal tersebut adalah :

1. Alam Naasuut (alam materi )
2. Alam Malakut ( alam kejiwaan )
3. Alam Jabaruut ( alam Ruh )
4. Alam Lahuut (Sifat – sifat Ilahiyah )
5. Alam Haahuut ( Wujud zat Ilahi )

Tentu ada tatacara dan “ alat-alat “ yang harus digunakan untuk meraih pengetahuan tentang hal – hal diatas.
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui sesuatu dan memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur ( menggunakannya sesuai dengan petunjuk Ilahi guna memperoleh pengetahuan ).

Ayat ini mengisyaratkan empat alat yaitu, pendengaran, mata dan akal ( penglihatan ) secara hati.

Trial dan error ( coba – coba ), pengamatan, eksperimen, probability, merupakan cara – cara yang digunakan ilmuan untuk meraih pengetahuan. Hal ini, walaupun di singgung juga oleh Al-Qur’an seperti dalam ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir tentang alam raya, melakukan perjalanan dan sebagainya. Namun itu hanya berkaitan dengan upaya mengetahui alam materi.
Perhtikanlah apa yang terdapat dilangit dan di bumi…( Q.S. Yunus [10]:101 ).

Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, langit bagaimana ditinggikan, gunung bagaimana ditancapkan, dan bumi dihamparkan ?. ( Q.S. Al – Ghasyiyah [88]:17s/d 20 ).

Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapa banyak kami tumbuhkan di bumi itu aneka tumbuhan yang baik ?. ( Q.S. Asy-syu’ara [26]: 7 )
Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi…Q.S. Yusuf [12]: 109 ).
Disamping mata, telinga dan pikiran, sebagai alat meraih pengetahuan. Al-Qur’an juga menggaris bawahi betapa pentingnya peranan hati dan kesuciannya. Wahyu, dianugrahkan atas kehendak Allah semata, dan berdasarkan kebijaksanaan-Nya tanpa usaha dan campur tangan manusia, sementara firasat, intuisi, dan semacamnya, dapat diraih melalui penyucian hati. Disini para ilmuan Muslim menekankan pentingnya Tazakiyah Annafes ( Penyucian jiwa ) guna memperoleh hidayah dari Allah, karena mereka sadar akan kebenaran firman Allah.

Aku akan memalingkan orang – orang yang menyombongkan diri di muka bumi, tanpa alasan yang benar – benar dari ayat-Ku…( Q.S. Al-‘Araaf [7] : 147 ).

Beraneka ragam dan berkali – kali pula Al-Qur’an menegaskan bahwa Inna Allaha Laa yahdiy…( Allah tidak akan memberi petunjuk ) kepada Azzalimiin ( orang – orang yang berlaku aniaya ), Al-Kafiriin ( orang – orang kafir ), Alfasiqiin ( orang – orang fasik ), Man Yudhil (yang disesatkan ), Man huwa Kaazibun Kaffar ( pembohong lagi amat ingkar ) Musrifun Kazzab ( pemboros lagi pembohong ). Dan lain –lain..

Memang boleh jadi mereka durhaka, memperoleh secercah ilmu Tuhan, yang bersifat kasby, tetapi apa yang mereka peroleh itu, terbatas pada sebagian fenomena alam, bukan hakekat , bukan pula yang berkaitan realita diluar alam materi.

Banyak manusia tidak mengetahui, mereka hanya mengetahui yang lahir ( saja ) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang akherat lalai. ( Q.S. Arrum [30] : 7 ).

Para ilmuan Muslim juga menggaris bawahi pentingnya mengamalkan ilmu. Dalam konteks ini Nabi SAW menyatakan bahwa : siapa yang mengamalkan apa yang diketahuinya maka Allah menganugrahkan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya. Sementara Ulama menunjuk kepada Q.S. Albaqarah [2] : 282 untuk memperkuat hadits tersebut.

Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajar kamu, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ( Q.S.Al-Baqarah [2] : 282.
Atas dasar itu, Al-qur’an memandang bahwa seseorang yang memiliki ilmu harus memiliki sifat dan ciri tertentu, antara lain dan yang paling menonjol adalah sifat Khas-yat ( takut dan kagum kepada Allah ), sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya;

Innamaa Yakhsya Allah Min ‘Ibadihi Al-Ulama,Q.S. Fathir [35] : 28. ( yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah para Ulama.). Dalam konteks ayat ini, Ulama adalah mereka yang memiliki pengetahuan yang jelas tentang fenomena alam.. Rasul SAW menegaskan pula bahwa : Ilmu ada dua macam, ilmu didalam dada, itulah ilmu yang bermanfaat untuk manusia. Dan ilmu yang sekedar diujung lidah, maka itulah yang bakal menjadi saksi yang memberatkan manusia.

1V. MANFAAT ILMU
Dari wahyu pertama juga ditemukan petunjuk tentang pemanfaatan ilmu. Denagn Iqra’ Bismirabbika digariskan bahwa titik tolak, atau motivasi pencarian ilmu demikian juga tujuan akhirnya karena Allah. Syekh Abdul Halim Mahmud mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar, memahami demi karena Allah dalam arti untuk kemaslahatan manusia. Bukan-kah Allah tidak butuh? Bukan-kah makhluknya yang butuh ?.

Berfikir dalam dalam bidang – bidang yang tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat , apalagi yang tidak memberikan hasil, kecuali menghabiskan energi harus dihindari. Rasulullah seringkali berdo’a “Allahumma Inny A’uzubika Min ‘Ilm Laa Yanfa “ ( Wahai Tuhan, Aku berlindung dengan-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat )”.

Atas dasar ini pula berfikir ( menggunakan akal ) untuk mengungkap rahasia alam metfisika=tidak boleh dijelajahi. Boleh jadi menarik untuk dikemukakan bahwa ayat – ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya, menggunakan redaksi yang berbeda-beda ketika merujuk kepada orang – orang atau manfaat yang diperoleh daripadanya, walaupun obyek atau bagian dari alam raya yang uraikannya sama.

V. TEKNOLOGI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu pengetahuan yang berdasarkan proses teknis. Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Kalau demikian, mesin – mesin atau alat canggih yang digunakan. Bukan itu yang di maksud dengan teknologi, walaupun secara umum orang sring mengasosiasikan alat – alat canggih sebagai teknologi. Mesin – mesin telah digunakan manusia sejak abad yang lalu, namun abad tersebut belum dinamai era teknologi.

Menelusuri pandangan Al-Qur’an tentang teknologi, mengundang kita menengok kepada sekian banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan alam raya. Menurut para Ulama terdapat sekitar 750 ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang alam raya dan fenomenanya, dan memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkannya. Secara tegas dan berulang – ulang, Al-Qur’an menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia.

Dia telah menundukkan untuk kamu apa yang ada dilangit dan apa yang aada di bumi semuanya ( sebagai anugrah ) dari-Nya ( Q.S. Al-Jatsiyah [45]:13 ).

Adanya petensi dan tersedianya lahan yang diciptakan Allah, serta ketidakmampuan alam raya untuk membangkang perintah-Nya, kesemuanya mengantarkan manusia berpotensi untuk memanfaatkan yang ditundukkan Tuhan itu. Keberhasilan memanfaatkan alam itulah buah teknologi. Al-Qur’an memuji sekelompok manusia yang dinamainya Ulul Albab. Ciri mereka antara lain dilukiskan oleh Q.S. Al-Imran [3]: 190-195.
Sesungguhnya dalam penciptaan dan bumi dan silih bergantiya malam dan siang terdapat tanda-tanda Ulil Albab. Yaitu mereka yang berdzikir ( mengingat ) Allah sambil berdiri, atau duduk, atau berbaring dan mereka yang berfikir tentang khaleq ( kejadian ) langit dan bumi…

Dalam ayat diatas tergambar dua ciri pokok, yaitu Tafakur dan Dzikir. Kemudian keduanya menghasilkan “ Natijah”. Natijah yang dimaksud bukan sekedar ide-ide yang tersusun dalam benak, tetapi juga melampauinya sampai pada pengamalan dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.

Muhammad Quthub dan kitabnya “ Manhaj Attarbiyah Al-Islamiyah” mengomentari ayat Al-Imran diatas sebagai berikut :
“ Ayat –ayat tersebut menggambarkan secara sempurna metoda penalaran dan pengamatan Islami terhadap alam,.. Ayat-ayat itu mengarahkan akal manusia kepada fungsi pertamanya diantara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari ayat-ayat Tuhan yang tersaji dialam raya ini. Ayat-ayat tersebut bermula dengan tafakkur dan berakhir dengan amal.

Pengetahuan tentang hal terakhir ini mengantar ilmuan kepada rahasia – rahasia alam, dan pada gilirannya mengantarkan pada penciptaan teknologi yang menghsilkan kemudahan dan manfaat bagi manusia.
Disini kita menoleh kepada teknologi dan hasil-hasil yang telah dipersembahkannya. Kalaulah untuk mudahnya kita jadikan alat atau mesin sebagai gambaran kongkrit tentag teknologi. Mesin- mesin dari hari ke hari semakin canggih. Mesin-mesin tersebut dengan bantuan manusia bergabung satu dengan lainnya. Sehingga ia semakin kompleks, ia tidak bisa lagi dikendalikan oleh seorang, namun ia dapat melakukan pekerjaan yang dilakukan banyak orang. Dalam tahap ini, mesin telah menjadi semacam “serteru” manusia, atau hewan yang harus disiasati agar ia mau mengikuti kehendak manusia.

Dewasa ini, lahir teknologi, khususnya dibidang rekayasa genetika, yang dapat mengarah untuk menjadikan alat sebagai bantuan, bahkan menciptakan bakal-bakal alat yang akan diperbudak dan tunduk kepada alat. Tetapi jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat mengalihkan manusia dari asal tujuan penciptaan, maka sejak dini Islam menolak kehadiran hasil-hasil teknologi.

Karena itu menjadi persoalan bagi martabat kemanusiaan bagaimana memadukan kemampuan mekanik manusia untuk menciptakan teknologi, dengan pemeliharaan nilai-nilai fitrahnya. Bagaimana mengarahkan teknologi sehingga dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai Rabbany, atau dengan kata lain bagaimana memadukan antara fikir , dzikir, ilmu, dan iman.

VI. KESIMPULAN
Manusia memliki naluri untuk selalu haus akan ilmu pengetahuan, dua keinginan yang tidak akan pernah puas, keinginan penuntut ilmu, keinginan dan keinginan penuntut harta.

Hal ini dapat menjadi pemicu bagi manusia untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memanfaatkan anugrah Allah yang dilimpahkan kepadanya. Oleh karena itu kita tidak bisa membendung laju teknologi, kita hanya bisa dapat berusaha mengarahkan mengarahkan manusia agar tidak terlalu menuruti nafsunya, mengumpulkan harta dan mengumpulkan ilmu teknologi yang dapat membahayakan dirinya sendiri, karena manusia dapat menjadi seperti kepompong, membahayakan dirinya sendiri akibat kepandainnya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa :

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya=karena air itu= tanam – tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak, hingga apabila bumi ini telah sempurna keindahannya dan penghuni penghuninya telah menduga bahwa mereka mampu menguasainya, ( melakukan segala sesuatu ) tiba – tiba datanglah azab Kami di laksana tanam – tanaman yang sudah sabit, seakan – akan belum tumbuh kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda – tanda kekuasaan ( kami ) kepada orang – orang yang berfikir.

_____________________________________________________________

Meluruskan Pandangan Hidup

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS An-Naazi’aat [79] : 37-41)

Astaghfirullaahal-‘azhiim. Inilah sebuah kalimat yang tepat untuk mengungkapkan realita yang ada saat ini. Kita saksikan sedikit sekali orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar. Ibnul-Qayyim Al-Jauziah mengungkapkan bahwa dua kelompok manusia, pertama: mereka yang dikalahkan, dikuasai, dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benarbenar duduk di bawah kendali nafsunya. Kedua: orang yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya dan nafsunya tunduk di bawah perintahnya. Mohonlah kepada Allah agar kita dijadikan kelompok yang kedua, sebab bukan saja akan mendapatkan keselamatan dunia, juga di akhirat pun kita akan mendapatkan balasan surga.

Sahabat, hidup akan semakin bermakna apabila kita menyadari secara hakiki bahwa dunia tempat kita berpijak ini adalah amanah Allah yang harus dimanfatkan sebesar-besarnya demi kepentingan akhirat. Agar kita tidak tertipu oleh dunia dan bujukan hawa nafsu. Sangat baik jika kita sebagai hamba Allah yang masih diberikan sepercik cahaya jiwa untuk membasuh dinding qalbu kita agar cemerlang diterangi oleh cahaya Ilahi.

Hidup semakin diberkahi apabila segala kemudharatan dapat kita jauhi. Semakin kita sadar akan hakikat hidup di dunia ini, niscaya kita akan semakin tepat dalam menyikapinya, sehingga kita menemukan makna hidup. Sebaliknya, semakin mengambang kesadaran kita akan hakikat hidup, maka akan semakin tidak tepat dalam menyikapinya, sehingga hidup tidak membawa makna tapi justru membawa sengsara. Ketahuilah sahabat, kehidupan yang bermakna bukanlah diukur dari seberapa lama kita hidup, tetapi makna hidup diukur dari berapa efektifkah kita mampu memanfaatkan hidup. Catatlah dalam hati kita, ada beberapa yang dapat diukur jika kita ingin menjadikan hidup penuh makna dan selalu menjadi orang yang berguna. Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa hidup adalah ibadah maka akan tertanam di dalam jiwanya sebuah kesadaran yang dalam akan beberapa hal, diantaranya adalah:

1. Tujuan hidup : Mencari ridha Allah SWT

2. Fungsi hidup : Sebagai khalifah Allah SWT

3. Tugas hidup : Beribadah hanya kepada Allah SWT

4. Alat hidup : Segala kenikmatan yang diberikan Allah SWT

5. Teladan hidup : Nabi Muhammad saw

6. Pedoman hidup : Al-Qur’an sebagai firman Allah SWT

7. Kawan Hidup : Orang yang berjuang karena Allah SWT

Orang yang memiliki kecerdasan rohani dan kesadaran yang tinggi akan menjadikan tolok ukur di atas sebagai pola kehidupannya. Baginya hidup ini adalah tidak lebih dari serangkaian kumpulan keputusan. Setiap kali mengambil keputusan berarti menetapkan sebuah pilihan terbaik. Dan pilihan terbaik adalah ketika kita mampu menemukan makna hidup. Maka hidup yang benar lahir dari sebuah pandangan yang benar tentang hidup. Seseorang yang memiliki pandangan yang benar tentang hidup selalu menyadari bahwa umur atau usia yang dimiliki pada hakikatnya merupakan kesementaraan. Pada akhirnya ia menyadari, bahwa suatu saat akan menemukan batas akhir perjalanan yaitu kematian. Karena sesungguhnya hidup hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

Allahumma, Ya Allah. Engkaulah yang memiliki keutamaan dan karunia. Karuniakanlah kepada kami potensi kebaikan untuk selalu beramal. Karuniakanlah iman yang kuat untuk selalu melaksanakan ketaatan. Jadikanlah Ya Allah, kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan itu kebencian bagi hati kami. Dan masukkanlah kami ke dalam hamba-hamba-Mu yang selalu bersyukur. Teguhkanlah jiwa dan hati kami untuk selalu bersabar. Hanya karena Engkau-lah kami hidup dan menikmati kehidupan.

Penulis : Ustadz Anwar Anshori Mahdum
Astaghfirullaahal-‘azhiim. Inilah sebuah kalimat yang tepat untuk mengungkapkan realita yang ada saat ini. Kita saksikan sedikit sekali orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar. Ibnul-Qayyim Al-Jauziah mengungkapkan bahwa dua kelompok manusia, pertama: mereka yang dikalahkan, dikuasai, dan dihancurkan oleh hawa nafsunya. Ia benarbenar duduk di bawah kendali nafsunya. Kedua: orang yang berhasil memenangkan pertarungan melawannya dan nafsunya tunduk di bawah perintahnya. Mohonlah kepada Allah agar kita dijadikan kelompok yang kedua, sebab bukan saja akan mendapatkan keselamatan dunia, juga di akhirat pun kita akan mendapatkan balasan surga.

Sahabat, hidup akan semakin bermakna apabila kita menyadari secara hakiki bahwa dunia tempat kita berpijak ini adalah amanah Allah yang harus dimanfatkan sebesar-besarnya demi kepentingan akhirat. Agar kita tidak tertipu oleh dunia dan bujukan hawa nafsu. Sangat baik jika kita sebagai hamba Allah yang masih diberikan sepercik cahaya jiwa untuk membasuh dinding qalbu kita agar cemerlang diterangi oleh cahaya Ilahi.

Hidup semakin diberkahi apabila segala kemudharatan dapat kita jauhi. Semakin kita sadar akan hakikat hidup di dunia ini, niscaya kita akan semakin tepat dalam menyikapinya, sehingga kita menemukan makna hidup. Sebaliknya, semakin mengambang kesadaran kita akan hakikat hidup, maka akan semakin tidak tepat dalam menyikapinya, sehingga hidup tidak membawa makna tapi justru membawa sengsara. Ketahuilah sahabat, kehidupan yang bermakna bukanlah diukur dari seberapa lama kita hidup, tetapi makna hidup diukur dari berapa efektifkah kita mampu memanfaatkan hidup. Catatlah dalam hati kita, ada beberapa yang dapat diukur jika kita ingin menjadikan hidup penuh makna dan selalu menjadi orang yang berguna. Sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa hidup adalah ibadah maka akan tertanam di dalam jiwanya sebuah kesadaran yang dalam akan beberapa hal, diantaranya adalah:

1. Tujuan hidup : Mencari ridha Allah SWT

2. Fungsi hidup : Sebagai khalifah Allah SWT

3. Tugas hidup : Beribadah hanya kepada Allah SWT

4. Alat hidup : Segala kenikmatan yang diberikan Allah SWT

5. Teladan hidup : Nabi Muhammad saw

6. Pedoman hidup : Al-Qur’an sebagai firman Allah SWT

7. Kawan Hidup : Orang yang berjuang karena Allah SWT

Orang yang memiliki kecerdasan rohani dan kesadaran yang tinggi akan menjadikan tolok ukur di atas sebagai pola kehidupannya. Baginya hidup ini adalah tidak lebih dari serangkaian kumpulan keputusan. Setiap kali mengambil keputusan berarti menetapkan sebuah pilihan terbaik. Dan pilihan terbaik adalah ketika kita mampu menemukan makna hidup. Maka hidup yang benar lahir dari sebuah pandangan yang benar tentang hidup. Seseorang yang memiliki pandangan yang benar tentang hidup selalu menyadari bahwa umur atau usia yang dimiliki pada hakikatnya merupakan kesementaraan. Pada akhirnya ia menyadari, bahwa suatu saat akan menemukan batas akhir perjalanan yaitu kematian. Karena sesungguhnya hidup hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju keabadian.

Allahumma, Ya Allah. Engkaulah yang memiliki keutamaan dan karunia. Karuniakanlah kepada kami potensi kebaikan untuk selalu beramal. Karuniakanlah iman yang kuat untuk selalu melaksanakan ketaatan. Jadikanlah Ya Allah, kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan itu kebencian bagi hati kami. Dan masukkanlah kami ke dalam hamba-hamba-Mu yang selalu bersyukur. Teguhkanlah jiwa dan hati kami untuk selalu bersabar. Hanya karena Engkau-lah kami hidup dan menikmati kehidupan.

Penulis : Ustadz Anwar Anshori Mahdum

BENARKAH KEBEBASAN BERPIKIR ITU BOLEH?BERFIKIR BEBAS DAN ILMIAH DALAM AL-QURAN

Oleh : Ade Subandi

Pondok modern Gontor, almamater kita menjadikan kebebasan berfikir sebagai salah satu prinsip dasar. Prinsip ini penting dalam kehidupan manusia. Manusia seringkali didifinisikan sebagai “binatang berfikir” (al-insânu hayawânun nâtiq) Dalam definisi ini “berfikir” yang berarti juga “berfikir yang bebas” adalah sifat utama manusia dan faktor pembeda antara manusia dengan binatang-binatang yang lain. Dulu dalam peristiwa penciptaan Adam as juga ada isarat yang menunjukkan bahwa Adam mampu menjadi khalifah yang lebih tinggi derajatnya daripada para malaikat adalah karena kemampuannya bertikir dan menamakan al-asma’ (nama-nama benda).
Tulisan ini berusaha melihat beberapa aspek berfikir dalam al-Qur’an. Al-Qur’an menyerukan pentingnya berfikir yang bebas. Kebebasan berfikir yang diserukan al-Qur’an kepada manusia menyangkut segala proses akliah, kognitif, terhadap semua kehidupan dan kejadian alam wujud ini termasuk diri manusia sendiri. Pada saat yang sama proses berfikir yang bebas ini, menurut al-Qur’an juga harus ilmiah, kritis dan methodologis.

PROSES BERFIKIR YANG BEBAS DAN BERKESINAMBUNGAN
Dalam al-Qur’an proses berfikir adalah proses yang bebas, menyangkut segala kegiatan kognitif terhadap semua alam wujud dan kehidupan. Aktifitas berfikir sebagai karakter utama manusia mendapat perhatian yang istimewa dalam al-Qur’an. Akal yang merupakan alat untuk berfikir disebutkan al-Qur’an sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja (fi’il) dan tidak satupun kata akal (‘aql) digunakan dalam bentuk kata benda (isim) . Hal ini mengisyaratkan bahwa akal adalah sebuah proses berfikir yang berketerusan dan tidak boleh berhenti dan bahwa akal tidak memiliki makna kalau tidak digunakan. Alat untuk berfikir di dalam al-Qur’an juga disebut al-qalb, al-fu’ad, al-nuhâ, al-hijr, al-hilm dan al-lubb yang semuanya juga berarti akal fikiran. Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang menyerukan pentingnya proses berfikir yang bebas bagi setiap manusia. Ayat-ayat ini dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Ayat-ayat yang menyerukan berfikir dan penggunaan akal sebagai kekuatan alami yang dimiliki manusia. Di antaranya adalah: “Dan ia memudahkan bagi kamu malam dan siang, dan matahari serta bulan; dan bintang-bintang dimudahkan dengan perintah-Nya untuk keperluan-keperluan kamu. Sesungguhnya yang demiikian itu mengandung tanda-tanda (yang membuktikan kebijaksanaan Allah) bagi kaum yang mau menggunakan akal.” (al-Nahl:12) . Ayat-ayat seperti ini juga dapat di lihat di Surat al-Baqarah: 164, al-Ra’d: 4, al-Nahl: 64 dan al-Rum: 24. Semua ayat-ayat tersebut di atas diakhiri dengan pernayataan “bagi kaum yang mahu menggunakan akal” (li qaumin ya’qilun) sebagai penekanan terhadap sesuatu yang secara alami merupakan suatu kemestian untuk difikirkan dan difahaini, yaitu suatu kemestian untuk memikirkan dan memaharni semua fenomena kejadian dan alam raya ini dengan bebas.

2. Ayat-ayat al-Qur’an yang ditujukan khusus kepada para Uli al-bab, intellektual, dan mereka yang memiliki kemampuan berfikir secara sempurna. Orang-orang ini disebut dalam al-Qur ‘an sebanyak 16 kali, yang semuanya berirama pujian dan penghormatan, hal ini karena mereka menurut al-Qur’an adalah orang orang yang memiliki tingkatan yang tinggi di dalam berfikir. Diantara ayat-ayat ini adalah firman Allah yang maksudnya: “Maka adakah orang yang mengetahul bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu itu (wahai Muhammad) perkara yang benar, sama dengan orang yang buta matahatinya? Sesungguhnya orang-orang yang mahu memikirkan hal itu hanyalah orang-orang yang berakal sempurna (uli al-bab).” (al-Ra’d: 19).

3. Ayat-ayat yang mencela dan menghardik orang orang yang tidak mau berfikir. Untuk mencela orang-orang yang tidak berfikir dan tidak menggunakan akal al-Qur’an banyak menggunakan tanda tanya yang bersifat negatif seperti: Apakah kamu tidak menggunakan akal fikiran (afala ta’qilun)? Apakah kamu tidak berfikir (afala tatafakkarun?) Apakah kamu tidak melihat (afala tubsirun)? Apakah kamu tidak ingat (afala tadzakkarun)? Apakah mereka tidak mendalaini (afala tadabbarun)? Ayat-ayat yang berkaitan dengan tanda tanya ini, banyak menyuruh manusia untuk membedakan antara baik dan buruk, jahat dan mulia dan untuk menimbang dan meinilih antara kelezatan kehidupan dunia dan akhirat kelak. Seperti firman Allah yang maksudnya: “Jijik perasaanku terhadap kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Maka mengapa kamu tidak mau menggunakan akal fikiran kamu?” (al-Anbiya’: 67). Dalarn banyak ayat Allah mensifatkan orang-orang yang tidak berfikir sama dengan binatang dan bahkan lebih hina daripada binatang, hal ini karena binatang memang sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk berfikir, sedangkan manusia sudah diberi alat untuk berfikir namun mereka tidak menggunakannya dengan sempurna. Kasus ini dapat dilihat dalam firman Allah: “Sesungguhnya sejahat-jahat makhluk yang melata, pada sisi (hukum dan ketetapan) Allah, ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mahu memahaini sesuatupun (dengan akal fikirannya).” (al-Anfâl: 22), dapat juga dilihat dalam Surat al-Furqan: 44.

4. Ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban manusia untuk melihat, meneliti, mengingat, memahami yang semuanya merupakan proses berfikir yang bebas yang tidak terikat, terhadap semua fenomena wujud dan kehidupan, yang dibahasakan oleh al-Quran dalam berbagai istilah seperti berikut:

a) Kata-kata yang berasal dan fa-ka-ra yang berarti berfikir terdapat dalam 16 ayat. Semua ayat-ayat ini menyerukan manusia untuk berfikir tentang semua fenomena wujud, baik alam raya maupun diri manusia sendiri, deinikian juga tentang dalil-dalil tauhid dan kebenaran risalah Nabi Muhammad. Di antara ayat-ayat tersebut adalah firman Allah yang maksudnya: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dan pada Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir ” (al-Jathiyah: 13). Kata ‘berfikir’ dalam ayat ini merupakan hal yang sangat penting, dimana kalau Allah telah menghamparkan dan menundukkan untuk manusia alam raya ini maka pada saat yang sama manusia tidak boleh bersikap acuh dan pasif tapi harus mengambil posisi aktif dan dinamis. Kedinamisan ini diwujudkan dalarn bentuk mentelaah, eksperimen dan kemampuan memanfaatkan alam bagi kebaikan kehidupan umat manusia. Pengendalian dan pemanfaatan segala apa yang terhampar di alam raya ini harus dengan studi dan penelitian. Pandangan yang sedemikian ini terhadap objek; alan raya, langit dan bumi akan dapat meningkatkan kehidupan material, dan dalam waktu yang sama dapat meningkatkan kehidupan spiritual, seperti apa yang ditegaskan oleh al-Qur’an: “Kami akan memperhatikan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa al-Qur’an itu adalah benar.” (al-Fusilat: 53).

b) Kata-kata yang berasal dan na-dla-ra yang maknanya melihat terdapat dalam 129 ayat, ada yang bermakna melihat dengan mata secara biasa, tapi secara umum memberi makna melihat dengan akal fikiran, seperti: “(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia melihat (memikirkan): dan apa ja diciptakan.” (al-Tariq: 5). Ayat yang sama dapat di jumpai di Surat ‘Abasa: 24, al-A’raf: 185.

c) Kata-kata yang berasal dan ba-sha-ra yang secara bahasa bermakna melihat dengan mata di dalam al-Qur’an bermaksud meneliti dan menggunakan akal secara rasional terhadap semua fenomena kehidupan yang tampak secara empirik di depan mata. Dalam Surat al-A’raf: 179, Allah berfirman yang maksudnya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.” Yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang yang tidak menggunakan indera mereka sebagai proses memahami dengan baik dan betul-betul semua fenomena alan raya ini sebagai tanda kebesaran Allah. Ayat-ayat yang semacam ini dapat juga di jumpai di al-Dzariyat:21, al-Sajdah: 28.

d). Kata-kata yang berasal dan dab-ba-ra yang secara bahasa bermakna memahami, terdapat dalam 4 ayat yang semuanya berkaitan dengan pemahaman terhadap al-Quran, yang memberi perintah terhadap kita untuk memahami dengan teliti dan meinikirkan rahasia-rahasia dan keajaiban kandungan wahyu Ilahi, seperti: “(Al-Quran ini) sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu wahai Muhammad), -Kitab yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka memahami dengan teliti kandungan ayat-ayatnya, dan untuk orang-orang yang berakal sempurna beringat mengambil iktibar.” (Shad: 29). Ayat yang lainnya terdapat dalam Surat al-Nisâ’: 82, al-Mu’minun: 68 dan Surat Muhammad: 24.

e) Kata-kata fa-qi-ha di dalam al-Qur’an bermakna mendalami, seperti mendalami ilmu Syari’at, dan fa-qi-ha termasuk proses berfikir yang tinggi. Akar kata fa-qi-ha terdapat dalam 20 ayat, dan diantaranya adalah: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dan jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami (secara mendalam) dengannya (ayat-ayat Allah)…” (al-A’raf : 179).

f) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengambil iktibar dan pelajaran baik dan peristiwa sejarah dan pengalaman kehidupan manusia maupun dan peristiwa alam, seperti firman Allah yang maksudnya: “Sesungguhnya, kisah Nabi-nabi itu mengandungi pelajaran yang mendatangkan iktibar bagi orang-orang yang mempunyai akal fikiran.” (Yûsuf: 111). Ayat-ayat yang lain terdapat dalam Surah al-Hashr: 2, Ali ‘Imrân: 13, dan Nûr: 43-44.

g) Ayat-ayat yang menyerukan manusia untuk mengingat (tadzakkur). Dalam psykologi, mengingat adalah juga merupakan proses kognitif yang penting, dan karena itulah al-Qur’an banyak mengkaitkan proses ini dengan para ulil albab (intellektual), seperti firman Allah yang maksudnya: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang mengingati (pelajaran dan peringatan) hanyalah orang-orang yang berakal sempurna.” (al-Zumar: 9)

BERFIKIR HARUS ILMIAH, KRITIS DAN METHODOLOGIS
Selain memberikan kebebasan akal untuk melakukan tugas-tugasnya sesuai dengan kenampuan dan kekuatan yang dimiliki. Al-Qur’an memberikan banyak bukti-bukti perlunya berfikir iliniah, kritis dan metodologis. Diantara bukti-bukti itu adalah sebagai berikut:

a) Al-Quran dengan teliti dan dengan penuh tanggungjawab memaparkan pendapat-pendapat lawan, kemudian menjawabnya dengan logika yang benar dan hukum fitrah yang lurus. Al-Qur’an mencatat pandangan orang-crang Quraish, orang-orang Kafir dan orang orang Musyrik, kemudian menjawab pandangan-pandangan mereka dengan jawaban yang tepat dan memuaskan, yang didasari oleh alasan-alasan yang kuat dan rasional. Orang-orang Kafir umpananya ketika mengingkari adanya han kebangkitan dan mengatakan: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Al-Qur’an memberi komen dan jawaban dalam ayat selanjutnya: “Dan mereka sekali kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (al-Jasyiyah: 24). Disini Qur’an membedakan antara ‘ilmu’ dan ‘spekulasi’ (dhan), mengajak penglihatan kita pada pentingnya penelitian dan pengkajian secara mendalam tentang hukum-hukum dan keputusan-keputusan dan sumbernya, yang merupakan pendidikan untuk melakukan kritik yang objektif. Al-Qur’an memperingatkan dan melarang manusia mengeluarkan idea-idea dan keputusan-keputusan yang ia sendiri tidak mengerti, sehingga tidak mengakibatkan kesalahan dan kontradiksi dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang karnu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (al-Isrâ’: 36). Ketika orang-orang Kafir beranggapan bahwa para Malaikat itu adalah orang-orang perempuan. Al-Qur’an menjawab spekulasi mereka itu dengan mengatakan: “Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan ditulis persaksian mereka dan mereka akan diininta memberi pertanggung jawaban.” (al-Zuhruf: 19). Al-Qur’an dalam ayat ini ingin mengatakan kepada mereka, bahawa pendapat yang kamu pegang itu kalau benar maka harus berdasarkan atas penelitian, yang merupakan salah satu sarana ilmu pengetahuan yang benar.

b) Al-Qur’an menceritakan kepada kita tentang Nabi Ibrahim as dan kaumnya, perdebatan yang terjadi antara kedua belah pihak, dan argumentasi-argumentasi rasional yang tersusun dalam metode logika yang bagus dan tepat, dan dapat menjuruskan akal kepada konklusi-konklusi yang benar dan meyakinkan, seperti apa yang dinyatakan oleh ayat di akhir cerita: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) dilangit dan di bumi dan (Kami perlihatkan) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” (al-An’am: 75).

c) Al-Qur’an memberikan contoh-contoh metode berfikir iliniah dan methodologis. Di antara metode bertikir iliniah dan metodhologis yang diperkenalkan~oleh al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1) Metode sejarah: Terhadap sejarah, sebagai salah satu sumber pengetahuan manusia, al-Qur’an telah memperhatikan secara serius dengan membincangkan kembali keadaan dan pengalaman umat manusia di masa lalu, dan menyuruh setiap manusia untuk melihat dan menemukan hukun-hukum (sunnatullah) yang terdapat di dalam setiap peristiwa dan perubahan sejarah nanusia: “Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu (contoh kejadian-kejadian berdasarkan) hukum-hukum Allah yang tetap; oleh itu mengembaralah kamu di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul).” (Ali Imran: 137). Demikian juga Al-Qur’an telah memperhatikan pentingnya memastikan secara kritis dan objektif terhadap kebenaran setiap berita dan data-data sejarah: “Hai orang-orang yang berman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (al-Hujurat: 6). Dan sini Al-Qur’an telah meletakkan dasar yang paling utama dalam kritik sejarah, dimana ia telah meletakkan etika penyampaian berita sebagai faktor yang paling dominan untuk menilai kandungan sebuah berita. Orang-orang Islam telah menerapkan prinsip ini dalam periwayatan hadith Nabi. Prinsip kritik yang telah diterapkan oleh para perawi hadith inilah yang kemudian menjadi prinsip dasar dalam netode penelitian sejarah.

2) Metode silogisme: Metode ini termasuk cabang ilnu mantik (logika Aristotles), yaitu metode berfikir untuk nendapatkan keputusan atau hasil dan dua premis atau mukadimah. Metode ini diisaratkan oleh al-Qur’an dalam kisah Iblis ketika menolak untuk bersujud kepada Adam: Allah berfirman:”Hai lblis! Apa yang menghalangimu daripada turut sujud kepada (Adam) yang Aku telah ciptakan dengan kekuasaan-Ku? Adakah engkau berlaku sombong takbur, ataupun engkau dan golongan yang tertinggi? Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripadanya; Engkau (wahai Tuhanku) ciptakan daku dan api, sedang dia Engkau ciptakan dan tanah.” (Shad: 75-76). Dalam peristiwa ini Iblis membuat silogisme sebagai berikut: Saya (Iblis) diciptakan daripada api, Adam diciptakan daripada tanah (premis I). Api lebih baik daripada tanah (premis II), maka saya (Iblis) lebih baik daripada Adam (keputusan) . Karena silogisme ini Iblis menolak untuk bersujud pada Adam. Dalam silogisme, untuk nendapatkan keputusan yang benar preinis pertama dan kedua harus betul dan iliniah. Struktur silogisme yang digunakan Iblis ini memang betul tetapi tidak ilmiah, karena premis yang dia bangun bersifat subjektif dan masih dapat dipertikaikan. Bagi Iblis api lebih baik dan tanah, tapi bagi manusia tanah lebih baik dan lebih bermanfaat daripada api, dan dengan denikian dalam perspektif manusia Adam lebih baik daripada Iblis.

3) Metode qiyâs (analogical deduction): Metode ini digunakan dalan Usul Fiqh. Ayat al-Qur’an yang mengisayaratkan metode ini adalah: “…Maka Allah menimpakan (azab-Nya) kepada mereka dan arah yang tidak terlintas dalam fikiran mereka, serta dilemparkanNya perasaan cemas takut ke dalam hati mereka, (lalu) mereka membinasakan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri (dan dalam) sambil tangan orang-orang yang berman (yang mengepung mereka berbuat deinikian dan luar). Maka ambilah iktibar wahai orang-orang yang berakal fikiran.” (al-Hashr: 2). Dalam ayat ini Allah menceritakan apa yang telah terjadi pada Bani Nadhir, dimana mereka ditimpa azab yang pedih di dunia akibat dan kekafiran, pelanggaran perjanjian dan tipu muslihat nereka kepada Rasul dan Kaum Mukinin. Kemudian Allah memberi pernyataan: “..Maka ambilah iktibar wahai orang-orang yang berakal.” Maknanya wahai orang-orang yang berakal ambilah iktibar terhadap apa yang menimpa mereka dan sebab-sebab mengapa mereka ditimpa bencana tersebut, kemudi an berusahalah untuk tidak melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan, sehingga kamu tidak ditimpa bencana seperti mereka, kamu semua adalah manusia-manusia seperti mereka, dan apa yang terjadi pada mereka boleh juga terjadi pada kamu sekalian jika terdapat alasan/ sebab (‘illah) yang sama. Qiyâs dalam Ushul Fiqh berbeda dengan Silogisme. Dalam Usul Fiqh, Qiyâs tidak harus memiliki dua premis seperti dalam Silogisme, sebagai contoh praktikal, Rasulullah menentukan: Seorang pembunuh tidak boleh menerina warisan dari orang yang dia bunuh. Secara analogi seorang pembunuh juga tidak boleh menerima bagian wasiat dan orang yang dia bunuh. Atau contoh lain, dalam al-Qur’an Allah berfirman: “Maka janganlah engkau berkata kepada mereka (kedua orang tua) sebarang perkataan kasar sekalipun perkataan “Ha” dan janganlah engkau membentak mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (yang bersopan santun.” (al-Isrâ’: 23). Secara analogi seseorang benar-benar dilarang untuk memarahi apalagi memukul kedua orang tuanya.

4) Metode induksi: Induksi adalah metode berfikir untuk mendapatkan kesimpulan dan hukum tertentu dan hal atau fenomena yang umum. Metode ini adalah metode empirik yang menumpukan pada penelitian secara mendalam dan terus-menerus terhadap suatu objek untuk mendapatkan kaedah-kaedah atau hukum-hukum tertentu. Dalam al-Qur’an proses ini diawali dengan penelitian terhadap bagian-bagian dan alan raya ini: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Perhatikan dan fikirkanlah apa yang ada di langit dan di buini…” (Yunus: 101). Kemudian al-Qur’an menyuruh manusia untuk meneliti esensi, element dan bagaimana suatu objek itu dicipta: Tidakkah mereka memperhatikan keadaan unta bagaimana ia diciptakan? Dan keadaan langit bagainana ia ditinggikan binaannya.? Dan keadaan gunung-ganang bagaimana ia ditegakkan? Dan keadaan bumi bagaimana ia dihamparkan? (al-Ghâsyiyah: 17-20). Al-Qur’an kemudian mengajarkan manusia untuk mengkaji dan meneliti secara mendalam tentang hubungan dan pengaruh suatu objek terhadap objek yang lain, seperti dalam fenomena dan sebab-sebab terjadinya hujan, al-Qur’an nengatakan: “Dan Dialah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (yaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halaukan dia ke negeri yang mati (ke daerah yang kering kontang), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan.” (al-A’râf: 57). Dan proses-proses inilah kemudian manusia dapat menyingkap kaidah-kaedah, hukum-hukum dan teori-teori tertentu tentang alam.

5) Metode argumentasi dengan definisi: al-Qur’an mendefinisikan dengan jelas dan rasional tentang Allah, tentang manusia, tentang khamar dan lain-lain. Sebagai contoh al-Qur’an mendefinisikan Allah dengan mengungkapkan sitat-sifat dan kekuasaanNya: “Sesungguhnya Allah adalah Dia yang membelah (menumbuhkan) butir (tumbuh-tumbuhan) dan biji (buah-buahan). Ia mengeluarkan yang hidup dan yang mati, dan mengeluarkan yang mati dan yang hidup. Yang sedemikian itu kekuasaannya ialah Allah. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan dan menyembahNya (oleh benda-benda yang kamu jadikan sekutu-Nya)? Allah jualah Yang membelah cahaya subuh (yang menyingsingkan fajar), dan yang menjadikan malam untuk tinggal berehat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk mengira waktu (menurut peredarannya). Yang demikian itu adalah kuasa penentuan Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 95-96).

6) Metode perbandingan: Al-Qur’an banyak menggunakan metode ini, dengan maksud membandingkan antara hak dan batil, baik dan buruk, cahaya dan kegelapan, antara yang celik dan yang buta, dan antara Tuhan yang patut disembah dan yang tidak.: “Adakah Allah yang menciptakan senuanya itu sama seperti makhluk-makhluk yang tidak menciptakan sesuatu?” (al-Nahl: 17), “Bertanyalah lagi: “Adakah sama, orang yang buta dengan orang yang celik? Atau adakah sama, gelap-gelita dengan terang? …” (al-Ra’d: 16). Wallahu a’lam.

Kuala Lumpur, 23 Oktober 1998.

DIarsipkan di bawah: berpikir ilmiah dalam islam | Ditandai: berpikir ilmiah
BAGAIMANA SEORANG MUSLIM BERPIKIR

Al-Qur’an memiliki banyak perbedaan dengan kitab-kitab samawi lain yang diturunkan kepada para Nabi sebelum Muhammad SAW.

Keistimewaan Al-Qur’an itu terus dieksplorasi oleh para ulama salaf maupun khalaf. Saat ini telah ada ratusan atau bahkan ribuan literatur yang ditulis para ulama.

Literatur-literatur itu berusaha membongkar Al-Qur’an dari banyak sisi. Mulai dari bahasa, adab (sastra), ghaib (metafisika), sampai ilmu pengetahuan alam. Bukan mustahil kandungan-kandungan dalam Al-Qur’an tidak terdapat pada kitab-Nya terdahulu.

Salah satu sisi menarik kandungan Al-Qur’an adalah keterkaitan dengan masalah psikologi dan karakter manusia. Yaitu, bagaimana cara Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir.

Ada banyak jalan di dalam Al-Qur’an yang membuka pemikiran, sehingga manusia mau menggunakan akal sesuai dengan fungsinya untuk berpikir.

Secara eksplisit atau dalam istilah ‘Ulumul Qur’an disebut mantuq (makna yang tampak jelas menempel pada lafal), Al-Qur’an menggunakan kata-kata afala ta�qilun, afala tadzakkarun, afala tatadabbarun, afala tatafakkrun yang berarti “apakah kalian tidak berpikir?”, pada banyak ayatnya. Intinya merangsang manusia untuk menggunakan akal dan pikirannya.

Namun tidak jarang Al-Qur’an menggunakan perumpamaan atau kisah yang secara implisit mengajak manusia untuk berpikir.

Misalnya ketika Allah SWT menjelaskan kepada manusia bahwa sedekah yang dikeluarkan karena riya, tidak ikhlas dan menyakiti orang yang menerimanya, tidak akan membuahkan pahala sesuatupun.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian”.

Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah , kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak berdebu)…”. (QS.2. Al Baqarah 264).

Al-Qur’an mendeskripsikan kondisi sebuah lempengan batu yang tertutup lapisan pasir tipis. Sekilas, jika tidak dicermati, tanah itu tanah yang subur.

Begitu juga dengan sedekah yang disertai dengan menyebut-nyebut dan menyakiti, manusia akan menyangka sedekah tersebut diterima, padahal sebenarnya tidak membuahkan pahala sedikitpun seperti halnya lapisan pasir dan tanah yang disapu guyuran hujan.

Contoh lain, ketika Allah SWT “mengilustrasikan” tuhan-tuhan yang disembah selain Dia dan menegaskan lemahnya kekuatan mereka, Allah menjelaskannya dalam untaian kalimat perumpamaan yang menusuk hati.

QS.29. Al-Ankabut 41: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Pemakaian kata laba-laba sebagai musyabbah bihi (kata yang menjadi perumpamaan), dan pekerjaan membuat sarang sebagai wajhus syabh (sisi atau sifat yang sama, yaitu lemah), sangtlah beralasan.

Allah mentafsirkan orang-orang yang mempersekutukanNya ibarat laba-laba. Capek-capek ia buat, ternyata sangat lemah dan rapuh. Dengan hanya sekali tiup, terbang serta rusaklah rumah laba-laba itu.

QS.7. Al-A�raf 40: “Sesungguhnya orangorang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapNya, sekalikali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit, dan tidak pula mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum”.

Ayat-ayat itu menggambarkan sebuah perumpamaan yang sekilas kelihatan remeh namun bisa membuat hati bergetar.

Betapa tidak? Allah mengganjar orang-orang yang mendustakan ayat-ayatNya dan menyombongkan diri terhadapNya dengan tidak masuk surga selama unta tidak bisa masuk ke lubang jarum. Artinya, mereka tidak mungkin masuk surga selama-lamanya.

QS.14. Ibrahim 18: “Orang-orang yang kafir terhadap Tuhannya, amal-amal mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia)…”.

Dari ayat tersebut, tergambar jelas bagaimana jika amal perbuatan tidak dilandasi dengan iman, sekalipun perbuatan itu baik di mata agama dan masyarakat maka akhirnya seperti debu yang ditiup angin yang kencang, berhamburan dan tercerai berai ke segala penjuru dan tidak akan pernah berkumpul kembali.

Kadangkala Allah menggunakan kata-kata tertentu yang jika diucapkan secara jahr, memunculkan gambaran tentang keadaan dan situasi tentang materi yang. dimaksud.

Misalnya, ketika Allah SWT menjelaskan tentang was-was dalam QS.114. An Nas 1 – 6, Dia memilih kata-kata yang menjadi akhir ayat dengan huruf yang secara dominan menjadi penyusun kata waswas itu sendiri yaitu huruf sin.

Ketika dibaca dan dilafalkan ayat demi ayat secara berurutan (washal) sampai akhir surat, seakan-akan terjadi pengucapan secara berulang-ulang pada kata was-was dan mengandung penekanan makna dari kata tersebut.

Begitu pula dengan kata-kata yang Allah SWT pilih sebagai sinonim hari kiamat. Dari segi pengucapannya, sangatlah berat seakanakan menggambarkan kondisi hari kiamat yang juga bisa jadi lebih berat.

Dalam hal ini kata-kata As-Shaakhah dan At Thaammah perlu dicermati. Jika diamati dari sisi ilmu tajwid, kedua kata tersebut terdapat bacaan mad lazim Mutsaqqal kilmi, karena setelah huruf mad terdapat taysdid. Artinya dalam pengucapannya ada penekanan yang berat (mutsaqqal).

Demikian pula, pada pemilihan kata-kata “Yasysyaqqaqd�, QS.2. Al Baqarah 74: “…Dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari batu tersebut…”

Dengan hanya melafalkan ayat itu, tergambar jelas dahsyatnya air yang muncrat dari pecahan batu tersebut. Dalam makhanjul huruf (tempat keluarnya huruf), huruf syin keluar dari tengah lidah dan langit atas.

Selain itu, Syin juga mempunyai sifat tafassyi yang artinya menyebar. Yaitu, menyebarnya udara ke seluruh mulut ketika mengucapkan huruf syin, seperti tersebarnya percikan air ke segala penjuru ketika keluar pertama kalinya.

Perlu juga dicermati penggunaan kata “Yassha�add pada QS.6 Al-An�am 125: ” Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia lagi mendaki langit..”.

Ketika ayat itu dibaca sampai pada kata Yassha�adu, dari sisi bunyi atau lafal seolah-olah tersedak atau tercekik.

Wajar, karena pada kata tersebut, terdapat dua huruf isti�la, artinya lidah terangkat , sehingga terkesan berat ketika mengucapkan huruf tersebut.

Menariknya, huruf shad dan �ain ditasydid, kalau diuraikan dan dijumlahkan ada 4 huruf isti�la, 2 shad dan 2 �ain.

Kondisi yang sama akan dialami jika seseorang naik ke langit dan mencapai ketinggian tertentu dimana tidak ada oksigen.

Dengan kata lain, dengan membunyikan ayat Al-Qur’an, sudah dapat ditangkap makna yang dikandungnya, subhanallah….

Cara yang lain yang juga dipakai Al-Qur’an adalah dengan melontarkan pertanyaan oratoris. Yaitu, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Misalnya QS.6 Al-An�am 46 dan 47: “Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikan kepadamu? Perhatikanlah bagaimana kami berkali-kali memperlihatkan tandatanda kebesaran (kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan Allah selain orang-orang yang dzalim?”

Pertanyaan yang terdapat pada ayat itu sangat menggelitik dan membuat manusia berpikir. Ilmu kedokteran modern dengan didukung teknologi yang canggih pun tidak akan sanggup membuat mata dan telinga menyamai ciptaan Allah yang asli baik secara bentuk maupun fungsi, apalagi membuat organ dalam manusia.

Jujur, terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, pada dasarnya mereka tidak menggunakan akal pikiran mereka, kalaupun mereka memakainya, mereka mengingkari akal dan hati mereka sendiri.

Wajar, jika Allah menggunakan kata kafir untuk menyebut orang yang semacam ini, karena secara bahasa kafir adalah mengubur, menanam, menutup.

Mereka mengubur dan menanam dalam-dalam apa yang dikatakan oleh akal dan hati mereka karena kesombongan dan nafsu mereka. Na�udzu billah…

Tabloid Khalifah Edisi 25/Tahun I/2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: